ILMU NUTRISI IKAN: KOMPOSISI KIMIA BAHAN PAKAN IKAN & EVALUASI GIZI PAKAN IKAN (KIMIA, FISIK, MIKROORGANISME/MIKROSKOPIS)


A.    Pendahuluan
Pakan memegang peranan penting dan dalam menentukan keberhasilan usaha perikanan. Ketersediaan pakan merupakan faktor utama untuk menghasilkan produksi maksimal. Oleh karena itu pakan ikan perlu dijamin ketersediaannya sesuai dengan jumlah dan mutu yang dibutuhkan. Syarat pakan yang baik adalah mempunyai nilai gizi yang tinggi, mudah diperoleh, mudah diolah, mudah dicerna, harga relatif murah, tidak mengandung racun.
Pakan buatan adalah makanan ikan yang dibuat dari campuran bahan-bahan alami dan atau bahan olahan yang memiliki kandungan nutrisi selanjutnya diolah dan dibentuk dalam bentuk tertentu sehingga dapat merangsang ikan untuk memakannya dengan mudah dan lahap. Di Samping mempengaruhi produktivitas ikan, pakan buatan juga merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi, pada budidaya intensif dapat mencapai 60% dari keseluruhan biaya produksi (Ardy 2015).
Dari total produksi perikanan budidaya, jumlah budidaya ikan dalam kolam air tawar menyumbangkan angka hingga 1,1 juta ton. Sisanya adalah budidaya tambak air payau, budidaya di laut, budidaya dalam keramba dan budidaya jaring apung. Produksi budidaya ikan air tawar dalam kolam didominasi oleh ikan mas, lele, patin, nila dan gurame. Lima jenis ikan tersebut menyumbang lebih dari 80% dari total produksi. Budidaya intensif didirikan oleh tingginya tingkat padat penebaran ikan dan banyaknya pemberian pakan buatan (Halimah et al. 1993; Saparinto, 2008).
Pakan merupakan faktor yang memegang peranan sangat penting dan menentukan dalam keberhasilan usaha perikanan dan ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor utama untuk menghasilkan produksi maksimal (Darmawiyanti, 2005). Oleh karena itu pakan ikan perlu dijamin ketersediaannya sesuai dengan jumlah dan mutu yang dibutuhkan.
Ikan yang dibudidayakan memerlukan pakan berkualitas dengan kandungan nutrisi yang lengkap agar dapat hidup dan berkembang biak dengan baik (Khairuman dan Amri, 2002). Secara tidak langsung bertujuan pula untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya ikan konsumsi di Indonesia. Akan tetapi hal ini mengalami kendala karena disebabkan minimnya infrastruktur perikanan dan ketersediaan pakan yang menyebabkan biaya produksi perikanan budidaya sangat tinggi (Suhana, 2010).


B.     Komposisi Kimia Bahan Pakan Ikan
Menurut Kamal (1994) Bahan  pakan  adalah  segala  sesuatu  yang  dapat  dimakan,  dapat  diabsorbsi  dan  bermanfaat  bagi  ternak,  oleh  karena  itu  apa  yang  disebut dengan  bahan  pakan  adalah  segala  sesuatu  yang  memenuhi  semua persyaratan  tersebut. Bahan baku pakan buatan harus memenuhi syarat. Syarat tersebut adalah mempunyai nilai gizi yang tinggi  mudah dicerna oleh ikan, harganya relatif lebih murah, mudah diperoleh, tidak mengandung racun atau zat anti nutrisi, bukan bahan pokok manusia sehingga tidak merupakan saingan bagi kebutuhan manusia itu sendiri (Afrianto dan Liviawaty, 2005).
Protein dalam pakan ikan, sangat esensial bagi keperluan tubuh ikan. Afrianto dan Liviawaty (2005) menambahkan bahwa ikan menggunakan protein dan lemak secara efektif sebagai sumber energi, tetapi kurang efektif dalam memanfaatkan karbohidrat. Energi dalam pakan dapat diserap oleh tubuh ikan setelah melalui proses pencernaan dan penyerapan, kemudian disistribusikan sesuai dengan peruntukannya. Kebutuhan yang mutlak diperlukan dan harus disediakan ialah kalsium (Ca) Fosfor (P), zat mineral yang dibutuhkan 3%-5%.
Berdasarkan sumbernya bahan baku pakan terbagi menjadi dua golongan yaitu bahan baku pakan asal tumbuh-tumbuhan dan bahan baku pakan asal hewan. Bahan baku pakan asal tumbuh-tumbuhan yang biasa disebut nabati merupakan penyumbang banyak energi karena kaya akan pati. Biji-bijian yang tua lebih banyak mengandung protein, kadar lemak yang tinggi, dan zat. Selain mengandung protein, biji-bijian juga mengandung zat mineral yang penting bagi kesehatan ikan. Misalnya kalsium (Ca), Fosfor (P), kalium, sulfur, ferum, dan magnesium.
Protein dalam pakan ikan, sangat esensial bagi keperluan tubuh ikan. Afrianto dan Liviawaty (2005) menambahkan bahwa ikan menggunakan protein dan lemak secara efektif sebagai sumber energi, tetapi kurang efektif dalam memanfaatkan karbohidrat. Energi dalam pakan dapat diserap oleh tubuh ikan setelah melalui proses pencernaan dan penyerapan, kemudian disistribusikan sesuai dengan peruntukannya. Kebutuhan yang mutlak diperlukan dan harus disediakan ialah kalsium (Ca) Fosfor (P), zat mineral yang dibutuhkan 3%-5%.
Selain kandungan gizi, ada beberapa bahan tambahan dalam meramu pakan buatan. Bahan-bahan ini cukup sedikit saja, diantaranya : antioksidan, perekat dan pelezat. Sebagai antioksidan atau zat anti tengik dapat ditambahkan fenol, vitamin, etoksikuin, BHT, BHA dan lain-lain dengan penggunaan 150 – 200 ppm. Vitamin adalah zat makanan organik yang sangat dibutuhkan. Meski dalam jumlah kecil, vitamin berperan penting untuk pertumbuhan dan produksi. Beberapa bahan dapat berfungsi sebagai perekat seperti agar-agar gelatin, tepung kanji, tepung terigu dan sagu, dengan pemakaian maksimal 10% (Kurniawan, 2012).
C.    Evaluasi Gizi Pakan Ikan
Berkaitan dengan produksi pakan maka dua masalah kritis yang pada umumnya kita hadapi adalah jeleknya mutu bahan pakan, dan adanya pemalsuan atau pencampuran bahan pakan yang tidak dikehendaki.  Mutu pakan ikan dapat diketahui dengan cara pengujian kualitas. Pengujian ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu uji fisik, uji chemic (kimia), uji biologis, dan uji respon pada ikan. Uji tersebut adalah:
1.      Evaluasi Kimia
Dilakukan uji kimiawi terhadap komposisi kimia bahan pakan. Uji kimiawi ini cukup mahal, namun sebenarnya sangat penting. Pengujian  ini  dimaksudkan  untuk mengetahui kandungan  nutrisi pakan ikan. Beberapa zat gizi yang perlu diketahui adalah kandungan protein, lemak,  karbohidrat,  abu,  serat  kasar,  dan  kadar  air  serta energi (Yulfiperius, 2009). Secara garis besar jumlah zat makanan dapat dideterminasi dengan analisis kimia, seperti analisis proksimat dan analisis serat.
Pengujian secara kimia dilakukan di laboratorium. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan nutrisi pakan ikan. Beberapa zat gizi yang perlu diketahui adalah kandungan protein, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar, dan kadar air serta energi. Pengujian kimia ini tidak perlu dilakukan sendiri, tetapi dapat mengirim sampel pelet (pakan) ikan yang akan diuji ke laboratorium kimia terdekat.
Pelet yang baik memiliki kadar air maksimal 10%, kandungan abu dan serat kasar maksimal 5%. Sedangkan kandungan protein, lemak, dan karbohidrat tergantung kepada kebutuhan nutrisi ikan/udang yang akan diberi pakan. Sebagai patokan untuk pelet pakan ikan sebaiknya mengandung protein lebih dari 25%, lemak 5 – 7% dan karbohidrat antara 30 - 40%.
Berikut ini perhitungan evaluasi kimia: analisis kadar lemak pakan dan tubuh ikan (metode ether ekstraksi Soxhlet; Takeuchi 1988).
·         Labu ekstraksi dipanaskan pada suhu 1100C selama 1 jam. Kemudian didinginkan selama 30 menit dalam eksikator. Panaskan kembali selama 30 menit, lalu didinginkan, kemudian ditimbang. Proses tersebut diulang sampai tidak ada perbedaan bobot labu lebih dari 0.3 mg. Bobot labu ekstraksi ditimbang (A).
·         1 – 2 g sampel dimasukkan ke dalam tabung filter, lalu dipanaskan pada suhu 1000C selama 2 – 3 jam.
·         Tempatkan tabung filter pada no. 2 ke dalam ekstraksi dari alat Soxhlet. Kemudian sambungkan kondensor labu ekstraksi pada no. 1 yang telah diisi 100 ml petrolelum ether
·         Panaskan ether pada labu ekstraksi dengan menggunakan water bath pada suhu 700C selama 16 jam.
·         Panaskan labu ekstraksi pada suhu 1000C, kemudian ditimbang (B).
·         Perhitungan analisis nilai protein:
2.      Evaluasi Fisika
Evaluasi fisika atau organoleptik merupakan langkah awal dari tahapan evaluasi pakan. Evaluasi pakan secara fisik merupakan analisis terhadap pakan yang paling mudah dan murah, prinsipnya adalah melakukan suatu kegiatan pengamatan yang melibatkan pengumpulan data-data atau keterangan-keterangan.
Pengujian fisik ini dilakukan dengan mengukur tingkat kehalusan bahan penyusunnya, kekerasan dan daya tahan hasil cetakan didalam air (water stability). Kehalusan bahan penyusun pelet dapat dilihat dengan mata. Cara pengujian ini dilakukan dengan menggiling atau menghancurkan contoh pelet yang akan diuji. Alat penghancur yang digunakan dapat berupa gilingan daging yang plat penutupnya di buka (tidak dipasang), kemudian hasil gilingan tersebut diamati.
Berdasarkan ukuran butirannya, maka tingkat kehalusan pelet dapat dibedakan menjadi beberapamacam, yaitu: sangat halus, halus, agak kasar, kasar, sangat kasar, dan lain-lain. Makin halus bahan penyusun pelet, makin baik kualitasnya. Pakan ikan yang dibuat sendiri tidak perlu dilakukan uji fisik karena sejak bahan diseleksi sampai proses telah diketahui tingkat kehalusannya. Pengujian tingkat kepadatan (kekerasan) dapat dilakukan dengan memberi beban pada contoh pelet yang akan diuji. Pemberian beban ini dapat dilakukan dengan pemberat yang bobotnya berbeda-beda. Pelet yang diuji ditindih dengan beban pemberat paling ringan. Jika sampel tidak pecah, maka perlu diulang lagi dengan pemberat yang bobotnya lebih besar. Demikian seterusnya, pengujian ini diulang-ulang sampai pelet pecah saat ditindih dengan pemberat yang memiliki bobot tertentu. Pelet yang baik umumnya tingkat kekerasan cukup tinggi. Biasanya tingkat kekerasan berhubungan dengan tingkat kehalusan bahan penyusunnya. Makin halus bahan penyusun pelet, makin tinggi tingkat kekerasannya.
Pengujian daya tahan (stabilitas) pelet dilakukan dengan cara merendam contoh pelet yang akan diuji selama beberapa waktu di dalam air. Tingkat daya tahan pelet dalam air (water stability) diukur sejak pelet direndam sampai pecah. Makin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuyarkan pelet dalam proses perendaman, berarti makin baik mutunya. Pelet ikan yang baik mempunyai daya tahan dalam air minimal 10 menit. Sedangkan pelet pakan udang harus mempunyai daya tahan lebih lama lagi, yaitu sekitar 30 – 60 menit.
3.      Evaluasi Biologi (Mikroorganisme)
Berdasarkan penelitian dari Mansyur dan Abdul (2008). Untuk meningkatkan kualitas pakan adalah pemanfaatan mikroba yang dikenali sebagai metode GRAS (Generally Recognized as Safe). Pemanfaatan mikroba tersebut dilakukan melalui penambahan mikroba secara langsung kedalam bahan pakan, namun apabila metode GRAS harus diterapkan pada probiotik budidaya, tentu tidak semua strain-strain mikroba dapat dimanfaatkan misalnya Pseudomonas dan V. alginolyticus, karena kriteria dari sisi usaha budidaya menjadi tidak sepenuhnya aman. Salah satu jenis probiotik dengan merek dagang H-S mengandung bakteri Lactobacillus dengan konsentrasi 0,2% per kg pakan yang diberikan pada hewan uji ikan bandeng pada KJA laut dapat dipertimbangkan untuk digunakan karena memberikan respons yang terbaik terhadap laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan, dan kecernaan pakan baik bahan kering, protein, maupun energi.


D.    Kesimpulan
Pakan ikan memiliki kandungan gizi yang beragam. Dimana kandungan gizi tersebut dapat kita ketahui dengan melakukan uji evaluasi Kimia, Fisika, dan Biologi. Uji ini dilakukan agar kita khususnya pembudidaya ikan dapat dengan tepat memanfaatkan pakan ikan agar pertumbuhan komoditas budidaya optimal.




















DAFTAR PUSTAKA

 

Afrianto, Ir Eddy, and Ir Evi Liviawaty. Pakan Ikan dan Perkembangannya. Kanisius, 2005.


Darmawiyanti, V. "Formulasi dan Proses Pembuatan Pakan Buatan." Direktorat Jendral Perikanan SitubondI (Tidak di Terbitkan) (2005).

Mansyur, Abdul, and Abdul Malik Tangko. "Probiotik: pemanfaatannya untuk pakan ikan berkualitas rendah." Media Akuakultur 3.2 (2008): 145-149.


ROMANSYAH, M. ARDY. "TEKNIK PEMBUATAN PAKAN BUATAN IKAN GURAME (Osphronemus guramy) di CV. MENTARI NUSANTARA DESA BATOKAN KECAMATAN NGANTRU, KABUPATEN TULUNGAGUNG, PROPINSI JAWA TIMUR." (2016).
Saparinto, Cahyo. Panduan lengkap gurami. Penebar Swadaya Grup, 2008.
Satia, Yogie, and P. Octaria. "Yulfiperius., 2011. Kebiasaan makanan ikan nila (Oreochromis niloticus) di danau bekas galian pasir Gekbrong Cianjur–Jawa Barat." Jurnal Agroqua 9.1 (2009): 1-6.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILMU NUTRISI IKAN “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN IKAN AKAN BERBAGAI GIZI (KUALITATIF DAN KUANTITATIF)”

Menjelajahi Keindahan Alam di Colorado, USA #GlobalUGRAD

Peran Fungi/Jamur Dalam Dunia Perikanan