TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN: "Budidaya Rumput Laut"
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia
mempunyai panjang pantai ±81.000 km dengan luas perairan pantainya adalah ±
6.846.000 km. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang baik
untuk mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan lautnya terutama rumput laut. Pemanfaatan
rumput laut kemudian berkembang kearah komersial untuk diekspor dan
diperdagangkan sebagai bahan mentah untuk pembuatan agar-agar atau karaginan
(carageen).
Menurut Asni
(2015) Rumput laut merupakan salah satu komoditas ekspor di bidang perikanan
yang diharapkan dapat berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Indonesia sebagai salah satu negara penghasil dan pengekspor
rumput laut yang cukup penting di Asia pengembangan budidaya rumput laut sudah
cukup instensif, salah satunya berada di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Beberapa jenis
rumput laut yang telah diusahakan untuk dibudidayakan oleh masyarakat karena memiliki nilai ekonomis penting,
seperti Geledium, Hypnea, Eucheuma, Gracilaria, dan Sargassum Anton (2017).
B.
Rumusan Masalah
1)
Potensi rumput laut di Indonesia
2)
Jenis-jenis rumput laut di Indonesia
3)
Pembudidayaan rumput laut di Indonesia
C.
Tujuan
Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah untuk memenhi tugas dari mata kuliah Teknologi
Hasil Perikanan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Potensi Rumput Laut di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki
keberagaman hayati laut Dunia, diantaranya ialah Rumput laut atau alga.
Diantara rumput laut yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah Gracilla sp
& Kappaphycus cottonii ( eucheuma cottonii).
Potensi dan kualitas rumput laut Indonesia serta produk
turunannya sangatlah luar biasa. Ini yang menjadikannya diminati oleh pasar
dunia. Rumput Laut banyak digunakan sebagai produk makanan dan kesehatan. Tidak
hanya itu, tumbuhan ini juga digunakan sebagai pupuk taman dan pertanian. Untuk
pengembangan selanjutnya, dapat digunakan sebagai bahan bio diesel. Jika
melihat segi pemasaran, produk added value rumput laut dapat berupa makanan,
pupuk, bahan makanan tambahan, pengendalian pencemaran, dan bahan kecantikan.
Berikut data wilayah di Indonesia dengan potensi untuk
dilakukan budidaya rumput laut:

Dari aspek ekonomis, rumput laut merupakan
komoditas yang potensial untuk dikembangkan karena nilai gizi yang
dikandungnya. Rumput laut dapat diolah menjadi olahan makanan ataupun cemilan
seperti agar-agar, ada juga yang mengolah rumput laut sebagai produk
obat-obatan maupun kosmetik. Rumput laut juga digunakan dalam industri farmasi,
tekstil dan lain sebagainya. Dari sudut pandang lain budidaya rumput laut
sangat menguntungkan karena dalam proses budidayanya tidak banyak menuntut
tingkat keterampilan yang tinggi dan modal yang besar, sehingga semua dapat
dilakukan oleh para penduduk yang tinggal di daerah pesisiran. Selain itu masa
panen atau produksi rumput laut cukup singkat yakni sekitar 4-6 minggu bisa
dapat dipanen.
B. Jenis Rumput Laut di Indonesia
1. Gelidium
sp.
Gelidium sp. terdapat di
pesisir Kepulauan Seribu, Kepulauan Riau, Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Berbagai jenis Gelidium sp. di Indonesia dan negara lain
dimanfaatkan sebagai bahan baku pabrik agar-agar dalam negeri dan sebagai
komoditas ekspor. Kandungan agar-agarnya berkisar
antara 12-48%, tergantung jenisnya.

2. Gracillaria verrucosa
Wilayah penyebaran G. verrucosa di Indonesia meliputi di wilayah
Sulawesi selatan (Jeneponto, Takalar, Sinjai, Bulukumba, Wajo, Paloppo, Bone,
Maros), Sulawesi tenggara dan Sumbawa barat.

3. Eucheuma spinosum
Eucheuma spinosum tumbuh pada perairan yang jernih, dasar perairannya
berpasir atau berlumpur dan hidupnya menempel pada berbagai jenis jenis terumbu
karang. t E. spinosum adalah salah satu komoditas ekspor
yang potensial untuk dikembangkan. Rumput laut E. spinosum diambil
karaginannya yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

4. Hypnea sp.
Hypnea sp. dimanfaatkan
dan diambil karagenannya sebagai bahan baku berbagai industri.

C. Pembudidayaan Rumput Laut di Indonesia
Metode membudidayakan rumput
laut di lautan ada 3 cara yaitu rakit apung, lepas dasar, dan metode long line.
Metode dalam membudidayakan rumput laut:
·
Dalam metode rakit bahan yang diperlukan adalah potongan bambu,
tali pengikat, jangkar dari besi, bongkah batu atau adukan semen pasir. Bambu
dibuat jadi rakit berukuran 2,5×5 m². Bibit rumput laut dengan kisaran bobot
50-150 gram lalu diikat pada tali dengan jarak antar simpul 20-25 cm. Dalam
budidaya rumput laut, umumnya 10 rakit dirangkai dengan formasi 2×5 rakit.

·
Dalam metode lepas dasar, bibit rumput laut berbobot 100 gram
diikat pada seutas tali yang direntangkan dalam air dengan bantuan tiang
pancang atau patok. Patok bambu atau kayu sepanjang 1 meter ditancapkan sampai
kira-kira setengah meter dengann jarak tiap baris 2,5 meter.

·
Dalam metode tali bentang (long line), bibit rumput laut dengan
kisaran bobot 50-150 gram diikat pada tali bentang nilon sepanjang 30 m dengan
jarak antar simpul 15 cm. Tali bentang diikat pada tali ris utama dengan jarak
80 cm antar bentangan. Setiap tali bentangan diberi pelampung sebanyak 5 buah
untuk menjaga kestabilan bibit pada kedalaman 10 cm di bawah permukaan air
selama pemeliharaan.

Perawatan dan Pemeliharaan rumput laut, bersihkan dari
tumbuhan liar dan lumpur yang menempel agar tidak menghalangi sinar matahari,
bersihkan dari sampah yang menempel pada rumput laut, periksa keadaan tali
gantungan, hindarkan juga dari penyakit dan limbah minyak.
Pemanenan
dilakukan dengan mengangkat tali dan pelepasan tanaman dari tali
dilakukan di darat dengan cara memotong tali. Segera dikeringkan dengan cara
dijemur pada siang hari, sambil menjemur lakukan pembersihan dari kotoran
seperti batu dan sampah lainnya. Penjemuran dilakukan 3-4hari bila cuaca cerah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dari makalah yg bisa kita
tarik adalah bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan hayati yg
sangat besar. Salah satunya adalah rumput laut yang bernilai ekonomis tinggi.
Jenis rumput laut yang sering dibudidayakan di Indonesia adalah Gelidium
sp., Gracillaria
verrucosa, Eucheuma spinosum, dan Hypnea sp.
Serta metode yang biasa digunakan dalam budidaya rumput laut adalah metode
rakit apung, lepas dasar, dan long line.
DAFTAR PUSTAKA
Asni, A.
(2015). Analisis Produksi Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Berdasarkan Musim
dan Jarak Lokasi Budidaya di Perairan Kabupaten Bantaeng. Jurnal Akuatika
Vol. VI No.2/September 2015 (140-153) ISSN 0853-2532, 2.
Anton. (2017). PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN
KARAGINAN RUMPUT LAUT. Anton /Jurnal Airaha, Vol 5 No. 2 : 102 - 109, 1.
Komentar
Posting Komentar