REKAYASA AKUAKULTUR: "HATCHERY"


REKAYASA AKUAKULTUR
HATCHERY





DISUSUN OLEH:
DANI SAPUTRA     181110030

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
BUDIDAYA PERAIRAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
2019

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Semakin pentingnya budidaya ikan. Perkembangan dalam teknologi wajib dilakukan sebagai persyaratan awal dan dasar untuk akuakultur produktif; yaitu produksi benih ikan untuk ditebar. Budidaya ikan saat ini hampir tidak mungkin dilakukan tanpa adanya perkembangbiakan buatan untuk benih ikan dari jenis ikan yang bisa dibudidayakan. Kebutuhan akan produksi benih ikan berkualitas untuk ditebar di kolam ikan dan badan air alami memang terus meningkat. Metode pembiakan buatan merupakan cara praktis untuk memberikan benih berkualitas untuk pemeliharaan ikan di perairan seperti kolam ikan, waduk, dan danau.
Produksi bibit ikan atau juvenile yang dapat dijual hingga ke lingkungan pembesaran lah yang menjamin pengoptimalan dan pertumbuhan yang cepat sehingga memungkinkan waktu panen sesingkat mungkin. Petani ikan harus mendapatkan jumlah ikan muda yang memadai  untuk memenuhi tujuan produksinya. Kemungkinan mendapatkan benih ikan dalam jumlah yang memadai dari alam agak terbatas. Maka dari itu diperlukan suatu bangunan hatchery yang berfungsi sebagai  tempat memproduksi benih ikan mulai dari pemijahan sampai menghasilkan larva.
Dalam makalah ini kita akan membahas tentang klasifikasi hatchery dan pemilihan lokasinya, bangunan hidrolisir, desain dan pembuatan hatchery, serta gambaran lengkap tentang pembanunan hatchery.

1.2  Rumusan Masalah

a)    Klasifikasi hatchery & pemilihan lokasi
b)    Desain dan pembuatan hatchery
c)    Gambaran pembangunan hatchery

1.3  Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah mahasiswa diharapkan mampu memahami klasifikasi hatchery dan pemilihan lokasinya, bangunan hidrolisir, desain dan pembuatan hatchery, serta gambaran lengkap tentang pembanunan hatchery.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Hatchery dan Pemilihan Lokasi

A.   Klasifikasi Hatchery
Sumber dan sarana pengadaan benih ikan secara langsung mempengaruhi produksi ikan dari budidaya ikan. Pasokan benih ikan secara teratur meningkatkan jumlah produksi ikan. Biaya benih ikan bervariasi dan merupakan faktor penting dalam menentukan biaya produksi. Produksi telur, larva dan benih di tempat penetasan tergantung pada jumlah telur yang bisa menetas, kelangsungan hidup dan tingkat pertumbuhan larva.
B.   Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi umum dilakukan tanpa didasari  dengan pertimbangan teknis yang tepat. Umumnya lebih ditekankan pada pada factor tanah yang rendah dan kemudahan mencapai lokasi tersebut. Sering terjadi hatchery dibangun ditengah-tengah areal pertambakan  dengan maksud agar benih yang dihasilkan dapat ditebar langsung ketambak tanpa kesulitan pengangkutan. Padahal hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi keselamatan ikan atau udang.
Factor yang perlu diperhatikan dan dipertimbangakan dalam penentuan lokasi adalah:
·         Sumber air harus mencukupi kebutuhan, baik jumlah maupun mutu.
·         Lokasi sebaiknya dekat dengan sumber air
·         Jauh dari pembuangan limbah
·         Dekat dengan lokasi pemasaran
·         Dekat dengan sarana trasportasi
2.2 Desain & Pembuatan Hatchery
            Bangunan hatchery yang modern terdapat 4 unit yang berbeda
1.    Kolam Indukan
Ikan induk menyediakan beberapa produk untuk memulai generasi ikan baru. Hal ini harus diberikan perawatan yang memadai. Kolam yang lebih kecil direkomendasikan untuk pemanenan dan pemilihan induk.
2.    Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan adalah kolam yang sengaja dibuat sebagai tempat perkawinan induk-induk ikan budi daya. Ukuran kolam pemijahan ikan bergantung kepada ukuran besar usaha, yaitu jumlah induk ikan yang akan dipijahkan dalam setiap kali pemijahan. Pemijahan sangat penting dan memerlukan air dengan kualitas yang baik selama musim pembiakan. Air bekas dari tempat penetasan dapat dialihkan ke unit lain jika dirawat dengan benar. Tempat penetasan termasuk tangki atau wadah dimana induk yang sudah  matang gonad untuk pemijahan disimpan. Tangki baskom bangsal digunakan untuk ikan induk yang disuntikkan. Bagian bawah cekungan ini memiliki kemiringan landai menuju saluran pembuangan. Sisa pembuangan bisa sepenuhnya mudah terkuras. Pipa turn down berfungsi untuk mengatur kadar air. Rantai dan pasak diperlukan untuk mengunci belokan pipa bawah dalam posisi. Ini mencegah aliran balik air dari tangki bangsal ke saluran pembuangan. Aluko (dalam Abowei, 2017).
3.    Konstruksi Tangki Beton
Bahan yang dibutuhkan untuk konstruksi tangki beton adalah pasir, batu, semen, batang re-penegak, kawat pengikat, paku, kayu dan peralatan pipa. Bahan kayu dan pipa adalah untuk inlet dan outlet dari tank.
4.    Kolam Produksi & Pemeliharaan Benih
Jumlah pembibitan, pemeliharaan dan kolam produksi untuk hatchery tergantung pada jumlah benih yang diharapkan dari tempat penetasan. Jumlah tersebut tergatung dari beberapa factor yaitu;
·         Spesies yang dibiakkan
·         Kesuburan spesies ikan yang dibiakkan
·         Jumlah induk
·         Jumlah telur yang bisa menetas
·         Jumlah benih yang bertahan hingga bibit
 











2.3 Gambaran Pembuatan Hatchery
 










BAB III
KESIMPULAN
Hal yang harus diperhatikan dalam pembenihan ikan adalah konstruksi dari hatchery yang didalamnya termasuk kolam indukan, kolam pemijahan, konstruksi tangka beton, serta kolam produksi & pemeliharaan benih. Selain itu pemilihan lokasi juga perlu diperhatikan dengan memperhatikan beberapa factor yang sangat penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILMU NUTRISI IKAN “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN IKAN AKAN BERBAGAI GIZI (KUALITATIF DAN KUANTITATIF)”

Menjelajahi Keindahan Alam di Colorado, USA #GlobalUGRAD

Peran Fungi/Jamur Dalam Dunia Perikanan